Selasa, 30 Desember 2008

SeJaRaH PerTeKoM

"SeJaRaH PerKemBan9aN TeKn0Lo9i koMuNiKaSi"

dari kuliahkomunikasi.com

Teknologi komunikasi adalah peralatan keras,struktur- struktur organisasional dan nilai- nilai sosial yang dikoleksi, diproses dan menjadi pertukaran informasi individu- individu dengan individu- individu lainnya.

Kompetensi insan komunikasi dalam teknologi komunikasi:
1.Users (pengguna) teknologi komunikasi.
2.Content of technology pada teknologi komunikasi.
3.Riset dampak sosial teknologi komunikasi.

Menurut Alvin Toffler,3 gelombang peradaban manusia terdiri dari:
a. Era Pertanian (800 SM- 1500M) yaitu manusia berubah dari kebiasaan berpindah- pindah yang menetap di satu tempat. Cirinya penggunaan "baterai alamiah" yang dapat menyimpan energi yang dapat diperbaharui dalam otot- otot binatang, hutan, air terjun, kincir angin dan sebagainya.
b. Era industri (1500M- 1970M) sebagai masyarakat "manusia ekonomis" yang rakus yang baru lahir dari Renaissance (pencerahan di Eropa), gelombang ke2 ini berbudaya produk massa, pendidikan massa, komunikasi massa, dan media massa. Terjadi urbanisasi dan pembangunan kota besar, penggunaan energi yang tidak dapat diperbaharui dan polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup.
c. Era komunikasi dan Informasi,masa puncaknya ini akan segera tercapai 10 sd 20 tahun kedepan.

Lima gelombang peradaban baru selanjutnya:
1.Era industri Rekreasi (2015M)
2.Era Bioteknologi (2001M)
3.Era Mega Material (2200M - 2300M)
4.Era Atom Baru (2300M- 2500M)
5.Era Angkasa Luar Baru

Konvergensi media

"Revolusi Akbar Konvergensi Media"

dari ww.koranpakoles.co.cc

Kiprah dan eksistensi media online dengan daya jangkau yang luas,efektif dan mudah diakses penghuni jagat raya ini serta merta melahirkan "revolusi konvergensi media" yang tak terhindarkan lagi.
Konvergensi (penggabungan massal) merupakan reposisi eksistensi media massa di awal abad 21 yang elegan tanpa terjebak dalam bentrokan paradigma media konvensional vs progresif.
Media konvensional seperti media cetak,televisi,dan radio mulai meretas konvergensi media dalam bentuk portal media,seperti compas.com atau detik.com mulai terbuka mengakomodir suara warga untuk turut berpartisipasi menyumbang "kepingan opini publik" melalui blog.

Rabu, 24 Desember 2008

Telepon Seluler:

Telepon Seluler:
Teknologi Budaya dan Budaya Teknologi
(Studi Tentang Penggunaan HP di Berbagai Negara)

Irwansyah, MA
Disajikan pada acara Seminar Nasional “Ponsel: Teknologi Budaya dan Budaya Teknologi”
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
24 Desember 2008

Garis Besar
• Pendahuluan
• Teknologi dan Budaya
• Studi-Studi Penggunaan Telepon Genggam
• Kesimpulan

Pendahuluan
• Teknologi Informasi dan Komunikasi ada di mana-mana dan menjadi lebih prominen
• Komunikasi Bergerak (Mobile) telah menjadi mainstream dan omnipresent
• Telepon genggam/seluler (HP) merupakan teknologi yang lebih cepat diadopsi oleh begitu banyak orang (Katz, 2006)
• HP menjangkau dimana media tidak dapat mencapainya (GSM World, 2006).
• Pada tahun 2006 terdapat sekitar 2,4 milyar HP terjual di dunia, lebih banyak dibandingkan penjualan komputer (GSM World, 2006).
• Ada lebih dari 350 milyar short message service (SMS) yang melintasi jaringan bergerak setiap bulannya (GSM World, 2006).
• Sebuah studi yang dirilis oleh GSM World (2007) memperlihatkan kenaikan 10% dari penetrasi teknologi bergerak yang meningkatkan 1,2% pertumbuhan ekonomi
• Akhir 2007, jumlah pengguna HP di dunia mencapai 3.2 Milyar (Castell, 2008)
• Pasar Telekomunikasi Indonesia

Penetrasi Nirkabel Tahun 2007


Teknologi dan Budaya

Teknologi dan Budaya: Konteks HP
• Technology is extension of man dan the medium is the message (McLuhan, 1964).
• Dasar untuk mengatakan bahwa teknologi mendorong perubahan sosial yang sering disebut oleh technological determinism (LaRose & Straubhaar, 2006, 2008)


Sumber: Marshal McLuhan, Understanding Media, (1964); Robert LaRose & J. Straubhaar, Media Now, (2006, 2008)

Peradaban menentukan teknologi, bukan tidak terbendung (cultural determinism )

ASPEK BUDAYA
tujuan, nilai dan kode etik, kepercayaan, kesadaran dan kreativitas
ASPEK ORGANISASI
Kegiatan ekonomic dan industri,
aktivitas profesional , pengguna dan konsumen, asosiasi perdagangan
ASPEK TEKNIS
Pengetahuan, ketrampilan dan teknik, alat-alat mesin, bahan kimia, sumber daya, produk dan limbah
Sumber: Pacey, Culture of Technology, (2000)

LEVEL :
• Level Pertama, “Definisi Umum”
• Level Kedua, “Kontekstual” atau “Definisi berbasis Pengguna”
• Level Ketiga, “Kommunikatif” atau Definisi “Struktural”
DEFINISI TEKNOLOGI :
• Teknologi sebagai objek fisik, alat, & artefak
• Teknologi sebagai isi atau “piranti lunak”, yang didefinisikan oleh cara penggunaannya
• Teknologi sebagai sistem budaya dan makna sosial
DEFINISI BUDAYA :
• Budaya sebagai “seni” dan “keunggulan estetis”
• Budaya sebagai “cara hidup” atau pengalaman yang hidup dalam orang-orang, komunitas atau kelompok
• Budaya sebagai dasar “sistem struktur”
Studi-Studi Penggunaan HP
• Ranghild Overa (2008) menggambarkan konteks negara Ghana dan memperlihatkan akses HP mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan ekonomi bagi pedagang hasil bumi:
– HP menjadi alat komunikasi antara pedagang kota dan desa karena sering berpindah-pindah dan tidak punya kantor
– Pedagang bertukar informasi dan memilih berkomunikasi verbal daripada penggunaan SMS.

• Pui-lam “Patrick” Law dan Yinni Peng (2008) meneliti pekerja migran Cina bagian Selatan berkaitan dengan formasi jaringan kerja yang terbuka dan luas
– HP menjadi alat untuk berkomunikasi dengan keluarga di daerah rural
– HP memperluas jaringan untuk mendapatkan pasar kerja
Sumber: Pui-lam Law & Yinni Peng, Mobile Networks: Migrant Workers in Southern China, (2008)
• Judith Mariscal dan Carla Marisa Bonina (2008) mensurvei penggunaan HP di Mexico
– 49% perempuan muda ditemukan tergantung dengan HP dengan sering menelepon keluarga yang berada di rumahnya.
– Generasi muda sulit membedakan antara komunikasi face-to-face dengan komunikasi dengan menggunakan HP.
Sumber: Judith Mariscal & Carla Maris Bonina, Mobile Communication in Mexico: Policy and Popular Dimensions, (2008)

• Patricia Mechael (2008) meneliti tentang penggunaan HP dalam pelayanan kesehatan di Mesir
– Pemanfaatan HP lebih bermanfaat bagi pekerja kesehatan di daerah pinggiran kota dan rural untuk mengatasi rasa terisolasi
– Pekerja kesehatan menggunakan HP untuk memanggil dan berkoordinasi pejabat yang bertanggung jawab fasilitas kesehatan dan pelayanan gawat darurat
Sumber: Patricia Mechael, Health Services and Mobiles: A Case from Egypt, (2008)


• Lourdes M. Portus (2008) mengeksplorasi pemanfaatan HP bagi komunitas miskin kota Filipina
– HP dibeli secara kredit (empat kali bayar) dengan bunga 20% dan pengisian pulsa dengan prepaid
– HP dibeli untuk memperlihatkan status
– HP berguna untuk tetap berhubungan dengan keluarga di rumah mengantisipasi kriminalitas
– HP dimanfaatkan untuk memperluas pengawasan terhadap anak.
Sumber: Lourdes M. Portus, How the Urban Poor Acquire and Give Meaning to the Mobile Phone, (2008)

• Christian Licoppe (2008) meneliti tentang nada panggil HP (ringtone) di Amerika Serikat
– Ringtone digunakan untuk membedakan atau mengenali penelepon
– Ringtone dianggap mewakili “musik dalam pikiran” dan ekspresi diri
– Ringtone dimanfaatkan untuk memberikan kesenangan bagi penelepon jika tidak diangkat
Sumber: Christian Licoppe, The Mobile Phone’s Ring, (2008)

• Scott Campbell (2007) mensurvei tentang penggunaan HP dalam konteks Apparatgeist dan Fashion di Hawaii
– Apparatgeist = ‘spirit of machine’, kebiasaan manusia dalam mengadopsi HP (Katz & Aakhus, 2002)
– HP menjadi alat berkomunikasi untuk membangun relasi, keamanan, kenyamanan, dan ekspresi diri
– HP menjadi simbol gaya hidup, fashion dalam teknologi, representasi anggota kelompok.
Sumber: Scott Campbell, Mobile Technology and The Body: Apparatgeist, Fashion, and Function, (2008)
• Naomi S. Baron (2008) meneliti tentang volume suara dan multitasking dalam HP
– Perempuan merasa lebih terganggu ketika mendengarkan ringtone dan suara orang bertelepon dengan menggunakan HP karena lokasi yang tidak pas (spt. rumah ibadah, toilet)
– Laki-laki merasa terganggu ketika ada orang lain yang mendengarkan (‘nguping’) pembicaraannya di HP
– 73,9% mahasiwa melakukan multitasking baik antara komputer, HP, dan komunikasi face-to-face
Sumber: Naomi S. Baron, Adjusting the Volume: Technology and Multitasking in Disourse Control, (2008)

• Richard S. Ling (2008) meneliti dengan kohesi dan ritual sosial dalam penggunaan HP
– SMS menjadi alat untuk mempererat interaksi antara pasangan yang sedang berpacaran di Jepang (Ito, 2005)
– HP menjadi alat untuk mengucapkan selamat (mis. HUT) tanpa dibatasi ruang dan waktu
– Penggunaan kata “hug” sebagai penutup dalam SMS spt: “Have a good night, hug”, “Do you want to spend the night? Hug”.
Sumber: Richard S. Ling, The Mediation of Ritual Interaction via the Mobile Telephone, (2008);
M. Ito, Mobile phones, Japanese youth and the re-placement f social contact, (2005)

• Kakuko Miyata, Jeffrey Boase, dan Barry Wellman (2002, 2004, 2005) meneliti tentang pengaruh sosial ‘Keitai’ (Internet berbasis HP).
– Penggunaan keitai lebih banyak untuk email dibandingkan dengan PC.
– Keitai menjadi alat utama komunikasi yang berguna untuk menjaga hubungan antara sesama pengguna spt kedekatan emosional dan bantuan finansial.
Sumber: Kakuko Miyata, Jeffrey Boase, & Barry Wellman, The Social Effect of Keitai and Personal Computer Email in Japan, (2008)
• Ilpo Koskinen (2008) meneliti tentang Multimedia Service (MMS):
– MMS digunakan untuk “moblog”, mobile blogs, citizen journalism, dan media massa bergerak.
– MMS memberikan elemen sosial, sensual, dan emosi.
– MMS mengarahkan masyarakat pada kelompok yang nomaden.

• On-Kwok Lai (2008)meneliti penggunaan HP di Jepang untuk perlindungan anak-anak salah satunya dengan RFID:
– Lebih dari 81% responden sangat menyukainya untuk mendapatkan informasi keberangkatan dan kedatangan anak-anaknya (MIC 2005, 2006)
– NTT DoCoMo membuat pasar “kids mobile” untuk keamanan dengan alarm 100 dB dan panggilan darurat (MIC, 2006)
– Orang tua berlangganan “ima-doco” (Where are you now?) (Japan Times, 2005).
Sumber: On-Kwok Lai, Locating the Missing Links of Mobile Communication in Japan: Sociocultural Influences on Usage by Children and the Elderly, (2008). MIC, White Paper, (2005, 2006); Japan Times, DoCoMo handset for kids boasts crime alarm (2005)


• Peter B. White dan Naomi Rosh White (2008) meneliti penggunaan HP di kalangan turis di Selandia Baru
– HP digunakan untuk mendapatkan dukungan emosi dari rumah dan kekangenan terhadap keluarga
– SMS lebih banyak dipergunakan untuk menjaga kontak sedangkan Voice digunakan untuk keadaan darurat
– HP menjadi representasi kehadiran dengan keluarga, teman, dan rekan bisnis selama liburan.
Sumber: Peter B. White & Naomi Rosh White, Maintaining Co-presence: Tourists and Mobile Communication in New Zealand, (2008)

• Jonathan Donner, Nimmi Ragaswamy, Molly Wright Steenson, and Carolyn Wei (2008) meneliti penggunaan HP di keluarga kalangan menengah di India
– Karena masalah finansial, HP dipinjamkan, di sewa dan pembayaran tagihannya dikumpulkan secara kolektif dalam anggota keluarga
– Pada keluarga yang ingin selalu dekat dengan anggota keluarga lainnya, HP digunakan untuk berkomunikasi tanpa harus bertemu secara fisik
– Bagi pasangan pacaran yang berbeda kasta, HP menjadi alat untuk membangun relasi romantis tanpa harus takut diketahui dan ditentang oleh keluarga masing-masing


Sumber: Jonathan Donner, Nimmi Ragaswamy, Molly Wright Steenson, & Carolyn Wei, “Express Yourself” and “Stay Together”: The Middle-Class Indian Family, (2008)



• Mohammad Ibahrine (2008) meneliti penggunaan HP di Arab
– 90% remaja Arab menggunakan SMS, “Arab Generation Txt” (Arab Advisory Group, 2005)
– Bluetooth menjadi alat untuk bertukar nomor HP antara laki dan perempuan tanpa harus dihalangi atau dibatasi oleh Mutawaeen (Aboud, 2005)
– Adanya pelarangan penggunaan kamera HP di shopping mall (Kawach, 2003) dan pemisahan shopping mall (Daoussary, 2006)
– Adanya UU yang melarang penggunaan teknologi Bluetooth di Bahrain (Daoussary, 2006)


Sumber: Mohammad Ibahrine, Mobile Communication and Sociopolitical Change in the Arab World, (2008); Arab Advisors Groups, Only 56% of Arab cellular operators provide the MMS service, while Marocco and Lebanon have the highest SMS rates in the Arab, (2005); G. Aboud, Teenagers sinking their teeth into new technology, (2005); S. Doussary, The first law in the Gulf countries against the misuse of the Bluetooth wireless technology, (2006); N. Kawach, Camera mobile phone may be new security irritant, (2
• Mohammad Ibahrine (2008) meneliti penggunaan HP di Arab:
– 96% responden pada American University di Kairo dan Universitas Kairo percaya bahwa diperlukan aturan baru untuk meregulasi HP di ruang publik
– Pemerintah Saudi Arabia melarang penggunaan HP untuk memilih “Star Academy” (Saudi Arabia Idol) (Hammond, 2005)
– HP digunakan untuk mendapatkan pasangan dalam kawin kontrak (Misyar) (Al-Arabiya.net, 2005)
– SMS banyak digunakan untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri (Howeidy, 2006)

Sumber: Mohammad Ibahrine, Mobile Communication and Sociopolitical Change in the Arab World, (2008); A. Hammond, Saudi telecom stops text vote for Arab talent show, (2005), Al-Arabiya.net, The mobile phone and the Misyar, (2005); A. Howeidy, Lessons learned, (2006)

• Mohammad Ibahrine (2008) meneliti penggunaan HP di Arab:
– Walaupun ada fatwa tentang pelarangan penggunaan HP berkamera (Mishkas, 2004, Geledi, 2005), Fatwa-fatwa juga didistribusikan melalui SMS spt:
“Penggunaan SMS antara anak laki-laki dan perempuan diharamkan oleh Syariah Islam, dan yang mengarah kepada tindakan tersebut dilarang….” (International Islamic News Agency, 2004).

Sumber: Mohammad Ibahrine, Mobile Communication and Sociopolitical Change in the Arab World, (2008); A. Mishkas, Saudi Arabia to overturn ban on camera phones, (2004), S. Geledi, Camera phones still banned at schools, (2005); IINA
• Shahiraa Sahul Hameed (2008) meneliti efek penggunaan HP di Singapura
– HP menyebabkan pengurangan sentralisasi pengawasan di sekolah sejak murid memiliki alat untuk mengakses dan memberikan akses di luar sekolah
– Muslim Religious Council of Singapore (MUIS) dan Registar of Muslim Marriage (ROMM) menerima penggunaan SMS untuk talak, namun akan memberikan denda SGD 500 (3 juta rupiah) atau 6 bulan hukuman penjara di bawah UU Syariah Islam jika tidak melapor ke Pengadilan Syariah dalam waktu 6 hari setelah pengiriman SMS.
– Pemerintah Singapura meminta penggunaan kartu prabayar untuk melakukan registrasi dan membatasi seseorang untuk tidak memiliki lebih dari 10 SIM Card.

Sumber: Shahiraa Sahul Hameed, The effect of Mobile Telephony on Singaporean Society, (2008)
• Howard Rheingold (2008) meneliti dan mendokumentasikan tentang HP dan SMS sebagai alat yang mempengaruhi demonstrasi publik dan pemilihan umum
– Di Ghana, HP menjadi alat untuk melaporkan kebohongan di tempat pemungutan suara ke stasiun radio lokal
– Di Kenya, SMS menjadi alat kampanye, berita polling, dukungan politik (Kagai, 2002; Kalondo, 2005)
– Di Hungaria, SMS menjadi alat propaganda politik selama pemilu (Danyi & Sukosd, 2003)
– Di Italia, SMS menjadi kampanye untuk PM Silvio Berlusconi, ‘Sostieni Molto Silvio’ yang berarti ajakan untuk mengirimkan kalimat promosi ke lima orang berikutnya (Rhiengold, 2008).



Sumber: Howard Rheingold, Mobile media and political collective action, (2008); B. Kagai, Mobile phone plays role in free Kenya elections, (2008); E. Kalondo, Kenyans hold peaceful referendum after bitter campaign, (2005); Danyi & Sukosd, M-Politicas in the making: SMS and e-mail in the 2002 Hungarian election campaign, (2003)

• Howard Rheingold (2008) meneliti dan mendokumentasikan tentang HP dan SMS sebagai alat yang mempengaruhi demonstrasi publik dan pemilihan umum
– Di Korea Selatan, SMS menjadi salah satu alat untuk mendukung calon “underdog” yang kemudian menjadi presiden terpilih.
– Di Filipina, SMS memainkan peran penting dalam menjatuhkan rezim Estrada (Shantiran, 2003)
– Di Spanyol, SMS menjadi alat untuk mempertanyakan kebijakan pemerintah dan memanggil para demonstran (Adelman, 2004)
– Di Amerika, SMS dan Blackberry menjadi alat untuk kampanye, koordinasi antar anggota kongres, komunikasi darurat setelah 9/11 (Teachout, 2003)
Sumber: Howard Rheingold, Mobile media and political collective action, (2008); Shantiran, Txt Craze, (2003); J. Adelman, U say u want a revolution: Mobile phone text messaging is evolving into political tool, (2004); Z. Teachout, SMS messages Urge Consumers to Boycott US Products, (2003)
• Howard Rheingold (2008) meneliti dan mendokumentasikan tentang HP dan SMS sebagai alat yang mempengaruhi demonstrasi publik dan pemilihan umum
– Di Cina, SMS menjadi alat untuk menyebarkan berita tentang “fatal flu in Guandong” ke 120 juta rakyat Cina (Hoenig, 2003); koordinasi antar demonstran (French, 2004; Cody, 2005)
– Rheingold menyimpulkan bahwa adanya “smart mobs” dapat mengarah kepada demokrasi yang lebih kuat dalam memberdayakan warga negara dan dalam mengorganisir demonstrasi.
Sumber: Howard Rheingold, Mobile media and political collective action, (2008); H. Hoenig, Beijing goes high tech to block Sars messages, (2003); H. W. French, Workers demand union at Wal-Mart suppliers to China, (2004); E. Cody, A Chinese city’s rage at the rich and powerful, (2005).


• Thomas Molony (2008) meneliti tentang penggunaan HP di luar tujuan pembangunan di Tanzania, Zambia, dan Madagascar:
– Di Tanzania, HP menjadi salah satu komponen penting dalam transaksi seks perempuan muda selain untuk mendapatkan mobil (car) dan uang tunai (cash).
– Di Zambia, perempuan muda melakukan transaksi seks untuk mendapatkan HP terbaru dan pulsa (Cole, 2004)
– Di Madagascar, kepemilikan HP memperlihatkan kekuasaan dan otoritas dalam rumah tangga (Cole, 2004).
Sumber: Thomas Molony, Nondevelopmental uses of mobile communication in Tanzania, (2008); J. Cole, Fresh contact in Tamatave, Madagascar: Sex, money, and intergenerational transformation, (2004).
• Bart Barendregt dan Raul Pertierra (2008) meneliti penggunaan HP terkait dengan supranatural di Filipina dan Indonesia:
– Di Filipina, terdapat cerita-cerita tentang menerima HP tanpa ada nomor yang memanggil, batere yang tiba-tiba habis, atau HP yang berpindah tempat
– Di Indonesia, banyak orang mau membeli no. cantik karena percaya dengan primbon, hong shui atau feng shui
– Di salah satu universitas di Jawa, HP digunakan oleh seorang pustakawan menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan dukun di kampung halamannya dengan mahasiswa universitas tsb untuk mendapatkan prediksi angka lotere.
Sumber: Bart Barendregt & Raul Pertierra, Supernatural Mobile Communication in the Philippines and Indonesia, (2008)

• James E. Katz da Sophia Krzys Acord (2008) meneliti tentang penggunaan HP sebagai alat untuk mobile gaming di Jepang dengan menemukan tiga jenis pemain game: Hardcore, Casual, dan Social Gamers
• Youn-ah Kong (2008) meneliti tentang online community dalam mobile communication di Korea menemukan adanya hubungan antara penggunaan mobile communication dalam online social networking dengan interaksi sosial.
Sumber: James E. Katz & Sophia Krzys Acord, Mobile games and Entertainment, (2008);
Youn-ah Kong, Online communities on the move: Mobile play in Korea, (2008).
Kesimpulan
• HP jarang digunakan sebagai teknologi yang terisolasi penggunaannya (artinya dipakai bersama dengan teknologi lainnya).
• Penggunaan HP sebagai alat komunikasi dalam berbagai situasi.
• HP merupakan alat multipurpose.
• Semakin ke depan, semakin banyak orang menggunakan HP
• Penggunaan HP akan berkembang di luar fungsi utamanya untuk berkomunikasi seiring dengan nilai dan simbolisasi dari adanya subculture.
• HP menjadi bagian utama eksistensi manusia yang menyebabkan interaksi sosial dan budaya mengalami penyesuaian dengan keberadaannya.
• HP juga membantu menyelesaikan banyak halangan dalam mobilisasi politik dalam persiapan, pengerahan, koordinasi, dan sentimen massa.
• HP juga memiliki kekuatan yang kuat dalam mempromosikan kesempatan ekonomi.
• HP menjadi alat yang mampu melakukan tracking dan monitoring lokasi demi keamanan dan kenyamanan
• HP menjadi alat reproduksi sosial setiap hari
• HP menjadi alat konsumsi multimedia setiap hari
• Manusia dapat mengatasi multitasking baik dari tugas kognitif dan operasional dari penggunaan HP
• Penggunaan HP dapat dibatasi melalui regulasi atau aturan yang mengedepankan kepentingan norma publik, budaya, dan agama

budaya teknologi dan teknologi budaya

Ponsel Sebagai Teknologi Budaya dan, Budaya Teknologi
Ditinjau dari Perspektif Sosiologi
AGENDA
 ISTILAH
 PERKEMBANGAN PONSEL DAN TEKNOLOGI TELEKOMUNIKASI
 DAMPAK PONSEL DAN TEKNOLOGI TELEKOMUNIKASI TERHADAP BUDAYA
 REKOMENDASI
 SMART TELECOM
ISTILAH
• ISTILAH
• CIRI – CIRI BUDAYA
• WUJUD BUDAYA
• FUNGSI BUDAYA
• PENYEBAB PERUBAHAN BUDAYA
ISTILAH
 Komunikasi : peristiwa pertukaran informasi atau berita yang berjalan dan terus menerus
 4 komponen terjadinya komunikasi : Pengirim berita (sumber), Pihak yang menerima berita, Isi berita, dan Media penyampai (transmisi)
 Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk benda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistim kawat, optik, radio, atau sistim elektronik lainnya.
 Budaya adalah hasil karya cipta manusia yang diperoleh dari hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat
 Kebudayaan diciptakan dengan tujuan demi kepentingan dan peningkatan kesejahteraan hidup manusia


CIRI – CIRI BUDAYA
 Menyeluruh,
 Berkembang dalam ruang atau bidang
geografis tertentu dan
 Berpusat pada perwujudan nilai-nilai tertentu
WUJUD BUDAYA
• Ide dalam tata hidup,
• Tingkah laku dalam tata hidup,
• Produk sebagai:
 Ekspresi pribadi,
 Sarana hidup dan
 Nilai dalam bentuk lahir.
FUNGSI BUDAYA
 Mendasari, mendukung, dan mengisi masyarakat dengan nilai-nilai hidup untuk dapat:
 Bertahan,
 Menggerakkan serta
 Membawa masyarakat kepada taraf hidup tertentu :
 hidup lebih baik,
 lebih manusiawi dan
 berperikemanusiaan.
PENYEBAB PERUBAHAN BUDAYA
Faktor Internal
• Bertambahnya atau
• Berkurangnya produk,
• Penemuan-penemuan baru (inovation),
• Pertentangan-pertentangan dalam masyarakat (konflik) dan
• Adanya pemberontakan atau revolusi.

Faktor Eksernal
• Perubahan lingkungan fisik manusia (bencana alam),
• Pengaruh kebudayaan masyarakat lain dan
• Karena adanya peperangan.
PERKEMBANGAN PONSEL & TEKNOLOGI KOMUNIKASI

PERKEMBANGAN TELEPON DI INDONESIA
• 1974, TELKOM diberikan wewenang untuk menyelenggarakan Telekomunikasi untuk umum di Indonesia
• 1980, Indosat berdiri
• 1990, Berdirian perusahaan radio Panggilan
• 1995, Telkomsel berdiri sebagai perusahaan pertama seluler di Indonesia
• 2006, Smart Telecom berdiri sebagai perusahaan seluler CDMA 2000 1x terakhir di Indonesia

PERKEMBANGAN TELEPON DI INDONESIA

MOBILE BROADBAND SERVICE
– “Indonesia leads South East Asia” in adopting mobile broadband services
» Jumlah koneksi HSPA melebihi koneksi Fixed BB, 315,000 koneksi HSPA dibandingkan dg 300,000 koneksi fixed-broadband pada akhir 2007
» 5.5 juta pelanggan 3G (June 2008)
INTERNET
Indonesia – pengguna berat dari Mobile Internet
• Yahoo!Go
– # 1 in Asia
– # 3 Worldwide
• AdMob
– # 2 Worldwide
• myGamma
– # 1 Top ten list by advertising page view and percent year-on-year growth
• Opera Mini
– # 2 In Opera Mini worldwide traffic (63% traffic = social networking sites)
• Taptu
– In Taptu user base worldwide
BISNIS TELEKOMUNIKASI
– Dipengaruhi oleh:
– Regulasi
– Kemajuan Teknologi
– Permintaan Pelanggan
DAMPAK PONSEL & TEKNOLOGI TELEKOMUNIKASI TERHADAP
EKONOMI & BUDAYA
• PENGARUH TERHADAP EKONOMI
• TELEKOMUNIKASI & BUDAYA
• PENGARUH PADA BUDAYA SOSIAL
• PENGARUH PADA BUDAYA BIROKRAT
• PENGARUH PADA BUDAYA BISNIS
• PENGARUH PADA PENDIDIKAN
PENGARUH TERHADAP EKONOMI
• Pertumbuhan telekomunikasi sebesar 1% secara langsung atau tak langsung memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3% (ITU).
• Peningkatan aktivitas perdagangan akibat pertumbuhan telekomunikasi
• Penyerapan Tenaga Kerja ( padat karya )

TELEKOMUNIKASI & BUDAYA
• Internet pemicu antisocial behavior
– anonymous
– tidak bertatap muka secara langsung
• Budaya kita?
– tidak/kurang belajar dari sejarah
– suka jalan pintas PENGARUH PADA BUDAYA SOSIALAktor (means) pengubah dan sekaligus sebagai Sasaran (ends) dari perubahan
– Memudahkan aktivitas manusia
PENGARUH PADA BUDAYA SOSIAL
• Aktor (means) pengubah dan sekaligus sebagai Sasaran (ends) dari perubahan
• Memudahkan aktivitas manusia
• Penyebab kesenjangan ekonomi dan sosial.
• Teknologi tepat guna menjadi tidak popular



PENGARUH PADA BUDAYA BIROKRAT
• Budaya terbuka
• Disiplin
• Lisan --> Tertulis
• Hirarki --> Jaringan
• Berbagi Informasi Gagap Teknologi
• Loncatan budaya
PENGARUH PADA BUDAYA BISNIS

• e-Biznis baru
• Pangsa Pasar baru
• Riset Pasar murah
• 24 jam /7 hari
• Ubiquitous: every one, every where & every time
• Gagap Teknologi
• Loncatan budaya
• Ancaman Global
PENGARUH PADA PENDIDIKAN
• Dampak Positif
– Perubahan sarana belajar
– Kemudahan mendapat informasi dan bahan belajar
• Munculnya sarana belajar online (e-learning)
– Luas jangkauan komunitas dan interaksi
• Knowledge sharing
– Peningkatan Social interactions, walaupun secara online
– Budaya dengar ke budaya menonton
• Sarana video, televisi
– Collaborative and participatory
– Belajar mandiri
• Dampak Negatif
– berkurangnya nilai kemanusiaan
• Jarangnya interaksi secara fisik
– ikatan emosi dan penghargaan kepada guru akan berkurang
– perubahan mental siswa karena pornografi melalui internet
REKOMENDASI
• D I K W
• PENERIMAAN TEKNOLOGI
• PERANAN PEMERINTAH RECOMENDASI
REKOMENDASI
• Telekomunikasi sebagai pemicu budaya perlu dicermati dengan bijaksana
• Peran Pemerintah dalam menciptakan regulasi yang benar, bijak, dan melindungi masyarakat
• Masyarakat sebagai konsumen perlu melakukan filter terhadap budaya teknologi telekomunikasi yang “tidak sesuai” dengan budaya Indonesia
SMART TELECOM
• Profil PT. Indoprima Mikroselindo (PRIMASEL)
• Paket Pascabayar Smart
• Paket Prabayar Smart
• IDD (01033)
• Smart M@il
• Smart Coverage
Profil PT. Indoprima Mikroselindo (PRIMASEL)
Memiliki Ijin Penyelenggaraan Telekomunikasi Bergerak Seluler dengan alokasi pita frekuensi 1903.125 – 1910 MHz berpasaangan dengan frekuensi 1983.125 – 1990 MHz (5 Carriers) berdasarkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 177/KEP/M.INFO/10/2006 tanggal 8 Desember 2006 dan beroperasi secara Nasional.

Mendapatkan ijin peggunaan kode akses 0881 & 0882 pada bulan Februari 2004
Penetapan SPC # 12 pada bulan Juli 2004
Penetapan MNC # 9 pada bulan Oktober 20005
Memiliki Ijin Stasiun Radio untuk BTS dalam rangka Komersial dan selanjutnya dalam rangka pengembangan BTS skala nasional.
Corporate Business Solution
Smart Telecom - Corporate Business Solution (CBS), adalah untuk melayani segmen pelanggan korporat. CBS mempunyai misi untuk melayani kebutuhan telekomunikasi baik data dan suara dengan cara memberikan solusi yang terbaik bagi pelanggan. CBS juga bisa memberikan solusi yang dapat disesuaikan (customize) dengan kebutuhan khusus yang dimiliki oleh pelanggan korporat.
Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, CBS Account Manager secara khusus melayani dan sekaligus berfungsi sebagai konsultan dalam memberikan solusi terbaik bagi berbagai masalah telekomunikasi yang dihadapi oleh pelanggan korporat. Juga terlibat aktif dalam memajukan usaha pelanggannya dengan cara memberi masukan, ide-ide untuk pengembangan bisnis dan memberikan komitmen yang tinggi atas kualitas produk serta layanan dari Smart Telecom.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi CBS Account Manager kami.
Solusi CBS meliputi
1. Voice Services
2. Connectivity Services
3. Leveraging Services
Paket Pascabayar Smart
Keuntungan berlangganan Smart Pascabayar
• Gratis Kartu Perdana pascabayar
• Tarif terhemat untuk telepon dan SMS
• Tarif flat sejak menit pertama untuk percakapan lokal ataupun interlokal ke sesama smart maupun lintas operator.
• Paket istimewa Smart Pasca Bayar
Paket Prabayar Smart
Registrasi Prabayar
SMS ke 4444
Daftar*tipe dokumen (KTP/SIM/Passport)*nomor dokumen*
nama lengkap*jenis kelamin (L/P)*tempat lahir*tanggal lahir
(dd.mm.yyyy)*pekerjaan*alamat lengkap*kota
IDD (01033)
Nikmati komunikasi ke luar negeri dengan tarif yang hemat dengan menggunakan akses 01033 Smart untuk menghubungi nomor kantor, rumah atau ponsel di luar negeri menggunakan akses IDD 01033 Smart dengan tariff mulai dari Rp 1.000 per menit.
Cara menggunakan IDD 01033
Contoh untuk melakukan panggilan ke Singapura, tekan saja :
Smart M@il
• Smart M@il adalah layanan yang memungkinkan pelanggan Smart untuk mengakses mail secara mobile kapan saja dan di mana saja sejauh dalam jangkauan layanan data Smart dengan menggunakan fasilitas WAP yang terdapat dalam handset.

Melalui layanan Smart M@il, Anda akan menerima notifikasi (alert) melalui SMS jika ada e-mail baru yang masuk ke mailbox Anda.

Berikut adalah fitur-fitur yang terdapat dalam layanan Smart M@il:
1. Account email dengan kapasitas 30MB
2. Akses maksimum 2 email POP3/IMAP
3. Alert pada saat menerima email baru
4. Baca, tulis, balas dan meneruskan email
5. Membuka attachment gambar dan PDF
Biaya berlangganan Rp. 20.000,-/bulan (belum termasuk PPn) dan layanan ini hanya dapat berfungsi optimal bagi pelanggan yang memiliki handset dengan WAP browser (Haier D1200P, Nokia, dan lainnya).
Smart Coverage
Smart Telecom direncanakan akan beroperasi di seluruh wilayah Indonesia meliputi pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya.
Berikut area-area jangkauan komunikasi Smart :
• + Java 1 : - Jakarta - Anyer - Bekasi - Bogor - Ciawi - Cikampek - Cikarang - Cilegon - Karawang - Merak - Pandeglang - Purwakarta - Serang – Tangerang
• + Java 2 : - Bandung - Banjar - Ciamis - Cianjur - Cimahi - Cipanas - Cirebon - Garut - Indramayu - Kuningan - Majalengka - Padalarang - Pangandaran - Pelabuhanratu - Soreang - Subang - Sukabumi - Sumedang
• + Java 3 : - Semarang - Banjarnegara - Banyumas - Blora - Boyolali - Brebes - Cilacap - Demak - Jepara - Karanganyar - Kebumen - Kendal - Kudus - Pati - Pekalongan - Pemalang - Purbalingga - Purwodadi - Purwokerto - Purworejo - Rembang - Salatiga - Solo - Sukoharjo - Tegal - Temanggung - Ungaran - Wonosobo - Yogyakarta - Bantul - Klaten - Magelang - Sleman - Wates - Wonogiri - Wonosari
• + Java 4 : - Surabaya - Bangkalan - Besuki - Blitar - Bojonegoro - Bondowoso - Gresik - Jember - Jombang - Kediri - Lamongan - Lumajang - Madiun - Magetan - Malang - Mojokerto - Nganjuk - Ngawi - Pamekasan - Pasuruan - Ponorogo - Probolinggo - Sidoarjo - Sumenep - Tuban - Tulungagung + Bali : - Denpasar - Bangli - Kuta - Nusa Dua - Sanur - Singaraja - Tabanan

Sabtu, 20 Desember 2008

Televisi

Sejarah Televisi

misteridigital.wordpress.com

Pada tahun 1873,seorang operator telegram menemukan bahwa cahaya mempengaruhi resistensi elektris selenium.Ia menyadari itu bisa digunakan untuk mengubah cahaya ke dalam arus listrik dengan menggunakan fotosel silenium.Kemudian piringan metal kecil berputar dengan lubang-lubang didalamnya ditemukan oleh seorang mahasiswa yang bernama Paul Nipkow di Berlin,Jerman pada tahun 1884 dan disebut sebagai cikal bakal lahirnya televisi.
Sekitar tahun 1920,John Logie Baird dan Charles Francis Jenkins menggunakan piringan karya Paul Nipkow untuk menciptakan suatu sistem dalam penangkapan gambar,transmisi serta penerimaannya.

TV elektronik
Vladamir Kosmo Zworykin dan Philo T Farnswort berhasil dengan televisi elektroniknya,ia mendapat bantuan dari David Sarnof,senior Vice President dari RCA(radio corporation of America).Di tahun 1935,mulai memancarkan siaran dengan menggunakan sistem yang sepenuhnya elektronik.Pada masa itu ukuran layar televisi hanya sekitar 3 sampai 8 inchi.

"tv digital"

duniatv.blogspot.com

Indonesia akan menerapkan sistem penyiaran televisi digital yaitu jenis televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video,audio, dan signal data ke pesawat televisi.

Latar belakang pengembangan televisi digital:
-perubahan lingkungan eksternal
-pasar televisi analog yang sudah jenuh
-komplain adanya noise,ghost dan lain-lain
-kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan kabel

perkembangan teknologi:
1. Teknologi pemrosesan sinyal digital
2. Teknologi transmisi digital
3. Teknologi semi konduktor
4. Teknologi peralatan display yang beresolusi tinggi

Keunggulan televisi digital:
a] high definition; 5 sampai 6 kali lebih halus dibanding televisi analog.
b] fines soud; kemampuan mereproduksi suara seperti sumber aslinya.
c] multifunction; memberi kemampuan untuk merekam dan mengedit siaran.
d] multi channel; satu saluran dapat diisi lebih dari lima program yang berbeda.

Kamis, 11 Desember 2008

konvergensi media

Tantangan Masa Depan Konvergensi Media*
Oleh: Anang Hermawan**
http://abunavis.wordpress.com/2007/12/09/tantangan-masa-depan-konvergensi-media/
Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology / ICT) selama dekade terakhir membawa tren baru di dunia industri komunikasi yakni hadirnya beragam media yang menggabungkan teknologi komunikasi baru dan teknologi komunikasi massa tradisional. Pada dataran praktis maupun teoritis, fenomena yang sering disebut sebagai konvergensi media ini memunculkan beberapa konsekuensi penting. Di ranah praktis, konvergensi media bukan saja memperkaya informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan kepada khalayak untuk memilih informasi yang sesuai dengan selera mereka. Tidak kalah serius, konvergensi media memberikan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik yang bersifat visual, audio, data dan sebagainya (Preston: 2001).
Fenomena jurnalisme online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses media konvergen alias ”pembaca” tinggal meng-click informasi yang diinginkan di komputer yang sudah dilengkapi dengan aplikasi internet untuk mengetahui informasi yang dikehendaki dan sejenak kemudian informasi itupun muncul. Alhasil, aplikasi teknologi komunikasi terbukti mampu mem-by pass jalur transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya. Di sisi lain, jurnalisme online juga memampukan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Dalam konteks ini, konsekuensi lanjutnya adalah berkurangnya fungsi editor dari sebuah lembaga pers karena wartawan relatif mempunyai kebebasan untuk segera meng-up load informasi baru tanpa terkendala lagi oleh mekanisme kerja lembaga pers konvensional yang relatif panjang.
Pada aras teoritik, dengan munculnya media konvergen maka sejumlah pengertian mendasar tentang komunikasi massa tradisional terasa perlu diperdebatkan kembali. Konvergensi menimbulkan perubahan signifikan dalam ciri-ciri komunikasi massa tradisional atau konvensional. Media konvergen memadukan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi dalam satu media sekaligus. Karenanya, terjadi apa yang disebut sebagai demasivikasi (demasssification), yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara masif menjadi lenyap. Arus informasi yang berlangsung menjadi makin personal, karena tiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan.
Dalam catatan McMillan (2004), teknologi komunikasi baru memungkinkan sebuah media memfasilitasi komunikasi interpersonal yang termediasi. Dahulu ketika internet muncul di penghujung abad ke-21, pengguna internet dan masyarakat luas masih mengidentikkannya sebagai ”alat” semata. Berbeda halnya sekarang, internet menjadi ”media” tersendiri yang bahkan mempunyai kemampuan interaktif. Sifat interactivity dari penggunaan media konvergen telah melampaui kemampuan potensi umpan balik (feedback), karena seorang khalayak pengakses media konvergen secara langsung memberikan umpan balik atas pesan-pesan yang disampaikan. Karakteristik komunikasi massa tradisional di mana umpan baliknya tertunda menjadi lenyap karena kemampuan interaktif media konvergen. Oleh karenanya, diperlukan pendekatan baru di dalam melihat fenomena komunikasi massa. Disebabkan karena sifat interactivity media komunikasi baru, maka pokok-pokok pendekatan linear (SMCRE = source  message  channel  receiver  effect/feedback) komunikasi massa terasa kurang relevan lagi untuk media konvergen.
Dalam konteks yang lebih luas, konvergensi media sesungguhnya bukan saja memperlihatkan perkembangan teknologi yang kian cepat. Konvergensi mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak. Singkatnya, konvergensi mengubah pola-pola hubungan produksi dan konsumsi, yang penggunaannya berdampak serius pada berbagai bidang seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Di negara maju semacam Amerika sendiri terdapat tren menurunnya pelanggan media cetak dan naiknya pelanggan internet. Bahkan diramalkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang di negara tersebut masyarakat akan meninggalkan media massa tradisional dan beralih ke media konvergen. Jika tren-tren seperti itu merebak ke berbagai negara, bukan tidak mungkin suatu saat nanti peran pers online akan menggantikan peran pers tradisional. Konvergensi memberikan kesempatan baru kepada publik untuk memperluas pilihan akses media sesuai selera mereka. Dari sisi ekonomi media, konvergensi berarti peluang-peluang profesi baru di dunia industri komunikasi.
Tidak kalah pentingnya di dalam mempersiapkan sumber daya yang mampu merespon kebutuhan pasar ke depan adalah sektor pendidikan. Pendidikan sekarang harus mampu merespon tantangan perubahan yang salah satunya diakibatkan oleh merebaknya media konvergen. Terutama untuk jenjang pendidikan tinggi, diperlukan bukan saja kurikulum yang merangkum pelbagai aspek teknis mekanis teknologi komunikasi baru (ICT); melainkan juga perlu ditanamkan kaidah-kaidah profesional sehingga pada saatnya nanti para lulusan dapat berkarya di masyarakat secara etis dan bertanggung jawab.
Regulasi Konvergensi
Sifat alamiah perkembangan teknologi selalu saja mempunyai dua sisi, positif dan negatif. Di samping optimalisasi sisi positif, antisipasi terhadap sisi negatif konvergensi nampaknya perlu dikedepankan sehingga konvergensi teknologi mampu membawa kemaslahatan bersama. Pada aras politik ini diperlukan regulasi yang memadai agar khalayak terlindungi dari dampak buruk konvergensi media. Regulasi menjaga konsekuensi logis dari permainan simbol budaya yang ditampilkan oleh media konvergen. Tujuannya jelas, yakni agar tidak terjadi tabrakan kepentingan yang menjadikan salah satu pihak menjadi dirugikan. Terutama bagi kalangan pengguna atau publik yang memiliki potensi terbesar sebagai pihak yang dirugikan alias menjadi korban dari konvergensi media.
Persoalan pertama regulasi menyangkut seberapa jauh masyarakat mempunyai hak untuk mengakses media konvergen, dan seberapa jauh distribusi media konvergen mampu dijangkau oleh masyarakat. Problem mendasar dari regulasi konvergensi media dalam konteks ini terkait dengan seberapa jauh masyarakat mempunyai akses terhadap media konvergen dan seberapa jauh isi media konvergen dapat dianggap tidak melanggar norma yang berlaku. Kekhawatiran sebagian kalangan bahwa isi media konvergen pada bagian tertentu akan merusak moral generasi muda merupakan salah satu poin penting yang harus dipikirkan oleh para pelaku media konvergen.
Beberapa pertanyaan pokok yang harus dijawab terkait dengan isu regulasi media konvergen adalah; pertama, siapa yang paling berkewajiban untuk membuat format kebijakan yang mampu mengakomodasi seluruh kepentingan aktor-aktor yang telibat dalam konvergensi dan kedua adalah bagaimana isi regulasi sendiri mampu menjawab tantangan dunia konvergen yang tak terbendung. Pertanyaan terakhir ini menarik, karena perkembangan teknologi umumnya selalu mendahului regulasi. Dengan kata lain, regulasi hampir selalu ketinggalan jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi komunikasi.
Dalam hal penciptaan regulasi konvergensi media, institusi yang paling berwenang membuat regulasi adalah pemerintah atau negara. Cara pandang demikian dapat dipahami jika dilihat dari fungsi negara sebagai regulatory agent di dalam menjaga hubungan antara pasar dan masyarakat. Di satu sisi negara memegang kedaulatan publik dan di sisi lain negara mempunyai apparatus yang berfungsi menjaga efektif tidaknya sebuah regulasi. Gambaran ideal dari hubungan tiga aktor konvergensi (negara, pasar, masyarakat) ini mestinya berlangsung secara harmonis dan seimbang. Jangan sampai terdapat salah satu pihak yang mendominasi yang lain, misalnya media konvergen cenderung mendominasi masyarakat, sementara masyarakat tidak punya pilihan lain selain menerima apa adanya tampilan-tampilan yang ada pada media.
Membangun sebuah regulasi yang komprehensif dan berdimensi jangka panjang tentu saja bukan hal yang mudah. Bahkan dalam konteks perkembangan teknologi komunikasi yang makin cepat, regulasi yang berdimensi jangka panjang nampaknya hampir menjadi satu hal yang mustahil. Adagium tentang regulasi yang selalu ketinggalan dibandingkan perkembangan teknologi mesti disikapi secara bijak. Pasalnya, sebuah bangunan kebijakan selalu mengandung celah multiinterpretasi sehingga bisa saja hal itu dimanfaatkan untuk menampilkan citraan media yang luput dari tujuan kebijakan. Di sisi lain, pada saat sebuah kebijakan disahkan dan dicoba diimplementasikan, boleh jadi telah muncul varian teknologi baru yang tak terjangkau oleh regulasi tersebut. Ini tidak berarti bahwa pembuatan regulasi tak harus dilakukan, bagaimanapun regulasi menjadi kebutuhan mendesak agar teknologi komunikasi baru tidak menjadi instrumen degradasi moral atau menjadi alat kelas berkuasa untuk menidurkan kesadaran orang banyak.
Regulasi tetap diperlukan untuk mengawal nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan antarmanusia itu sendiri. Beberapa isu menarik layak direnungkan dalam konteks penyusunan regulasi. Pertama adalah bagaimana pengambil kebijakan mendefinisikan batasan sektor-sektor yang akan dikenai kebijakan, misalnya saja soal hukum yang dapat dijalankan. Kedua bagaimana situasi pasar dan hak cipta diterjemahkan. Wilayah ini menyangkut soal self regulation dan kondisi standarisasi hak cipta. Ketiga, bagaimana soal akses pada jaringan media serta kondisi sistem akses itu sendiri. Persoalan seperti pengaturan decoder TV digital maupun content media menjadi layak kaji dalam hal ini. Keempat, akses pada spektrum frekuensi, kelima mengenai standar jangkauan atau sejauh mana media konvergen dapat dijangkau oleh khalayak serta apakah sebuah akses harus disertai dengan harga yang harus dibayar oleh khalayak. Dan terakhir menyangkut sejauh mana kepentingan khalayak diakomodasi oleh regulasi, misalnya sejauh mana freedom of speech dan kalangan minoritas benar-benar mendapat perlindungan dalam sebuah kebijakan.